Maret 11, 2026

Kecelakaan Boeing 787 Air India: Fase Kritis Lepas Landas Jadi Titik Fokus Investigasi

Cyberupdate.id11 Juni 2025 – Dunia penerbangan kembali diguncang setelah sebuah pesawat Boeing 787 Dreamliner milik maskapai Air India mengalami kecelakaan fatal sesaat setelah lepas landas. Insiden ini menjadi perhatian global, terutama karena melibatkan salah satu pesawat komersial modern yang memiliki catatan keselamatan cukup solid.

Dikutip dari Al Jazeera, pakar penerbangan internasional Alex Macheras menegaskan bahwa fase lepas landas dan pendaratan adalah dua fase paling kritis dalam setiap penerbangan. Dalam fase ini, dibutuhkan koordinasi intens antara kru pesawat, pengawas lalu lintas udara, serta pengelola wilayah udara lainnya.

Macheras menyoroti bahwa fokus penyelidikan akan tertuju pada mengapa pesawat yang telah beroperasi selama 11 tahun ini—bagian dari lebih dari 1.100 unit Boeing 787 di seluruh dunia—mengalami kesulitan dalam fase lepas landas.

Roda Pendaratan Tak Tertarik: Indikasi Awal Kegagalan Teknis

Rekaman dari media sosial, meski belum terverifikasi, menunjukkan pesawat tampak berjuang untuk naik setelah lepas landas. Hal ini mengagetkan banyak profesional penerbangan, mengingat Dreamliner dikenal sebagai salah satu pesawat paling canggih dan aman di kelasnya.

Keterangan dari mantan pilot menunjukkan bahwa roda pendaratan pesawat tidak berhasil ditarik kembali, dan tetap dalam posisi turun hingga akhir penerbangan. Hal ini memunculkan dugaan adanya kegagalan sistem hidrolik atau kehilangan tenaga mesin, yang berdampak langsung pada kemampuan pesawat untuk naik dengan stabil.

Diketahui, pesawat hanya mencapai ketinggian 625 kaki sebelum akhirnya jatuh. Roda yang masih turun memberikan hambatan aerodinamis signifikan, yang diyakini berkontribusi pada kegagalan pesawat untuk naik.

Panggilan Darurat dan Investigasi AAIB

Sinyal darurat sempat dikirim oleh pilot, menunjukkan bahwa kru menyadari ada masalah besar saat mengudara. Kini, penyelidikan resmi tengah dilakukan oleh Biro Investigasi Kecelakaan Pesawat Udara (AAIB), yang akan menganalisis Flight Data Recorder (FDR), Cockpit Voice Recorder (CVR), serta koordinasi dengan pengawas lalu lintas udara untuk menyusun kronologi kejadian.

Kata Para Ahli: Ada Indikasi Konfigurasi Pesawat Tidak Tepat

Mantan pilot Ehsan Khalid menyebut kemungkinan kerusakan mesin sebagai penyebab utama, namun menyatakan kecil kemungkinan bahwa kedua mesin gagal bersamaan, kecuali terdapat insiden seperti serangan burung yang ekstrem. Ia menegaskan pentingnya menganalisis data ACARS dan panggilan darurat untuk mengungkap penyebab pastinya.

Anthony Brickhouse, konsultan keselamatan penerbangan AS, menilai konfigurasi pesawat saat insiden lebih menyerupai fase pendaratan daripada lepas landas, yang dinilai sangat janggal.

Sementara itu, analis dan pilot komersial Nagarjun Dwarakanth menyoroti bahwa sayap pesawat ditarik terlalu cepat sementara roda masih turun, kondisi yang dapat mengurangi daya angkat dan memperbesar risiko kehilangan kontrol.

Fokus Investigasi: Sistem Flap dan Posisi Sayap

Pakar keselamatan penerbangan John M. Cox menyatakan bahwa penyelidikan akan sangat menekankan pada posisi flap dan bilah pesawat, yang berperan penting dalam menciptakan daya angkat pada kecepatan rendah. Gambar awal menunjukkan bahwa flap trailing edge tampaknya tidak berada pada posisi yang semestinya. Namun, ia mengingatkan bahwa kesimpulan pasti masih menunggu analisis mendalam dari data penerbangan.

Kesimpulan sementara menunjukkan adanya kemungkinan kombinasi kegagalan teknis dan faktor manusia, yang menyebabkan hilangnya daya angkat pada fase krusial lepas landas. AAIB akan segera mengumumkan temuan awal begitu hasil analisis dari kotak hitam tersedia.

Penyelidikan ini dipandang penting, tidak hanya untuk mengungkap penyebab tragedi, namun juga untuk menentukan apakah terdapat implikasi keselamatan lebih luas terhadap Boeing 787 Dreamliner lainnya di dunia.

(Septian)

SB : Tempo